February 14th, 2011
Pada GSM terdapat beberapa alokasi frekuensi sesuai aplikasinya. Pada setiap aplikasi, frekuensi uplink dan frekuensi downlink yang digunakan berbeda. Pada sistem GSM, uplink adalah arah jalur sinyal dari mobile station ke BTS, sedangkan downlink adalah arah jalur sinyal dari BTS ke MS. Frekuensi uplink dan frekuensi downlink harus berbeda sehinggga memungkinkan komunikasi baik arah TX maupun RX bisa berlangsung secara bersamaan. Frekuensi-frekuensi carrier yang digunakan mempunyai sebuah susunan yang tetap (frekuensi uplink-downlink) yang disebut frekuensi dupleks.
Pada GSM 900, frekuensi dupleks (beda frekuensi uplink dengan downlink) adalah 45 kHz. Pada GSM 1800, frekuensi dupleksnya adalah 95 MHz. Perlu diketahui bahwa channel terendah dan channel tertinggi tidak digunakan untuk traffic dengan tujuan untuk mencegah terjadinya interferensi dengan layanan-layanan (services) yang menggunakan frekuensi yang berdekatan. Hal ini berlaku baik pada GSM 900 maupun GSM 1800. Jumlah carrier yang ada pada GSM 900 adalah 124, sedangkan pada GSM 1800 adalah 374.
Tabel 3.1 Alokasi band frekuensi GSM
Band ARFCN Uplink (MHz) Downlink (MHz)
GSM 900 (Primary)
0 – 124
890 – 915
935 – 960
GSM 900 (Extended)
975 – 1023,
0 – 124
880 – 915
925 – 960
GSM 1800
512 – 885
1710 – 1785
1805 – 1880
GSM 1900 (North America)
512 – 810
1850 – 1910
1930 – 1990
GSM 850 (North America)
128 – 251
824 – 849
869 – 894
GSM – R
0 – 124,
955 – 1023
876 – 915
921 - 960
By: Hakim Agung Ramadhan
Posted in Tulisan | 1 Comment »
April 11th, 2008
Pengertian Time Division Multiplexing (TDM)
Time Division Multiplexing merupakan sebuah proses pentransmisian beberapa sinyal informasi yang hanya melalui satu kanal transmisi dengan masing-masing sinyal di transmisikan pada peride waktu tertentu.
Proses Transmisi TDM
Akan ada beberapa sinyal informasi yang akan masuk ke dalam Multiplexer dari TDM, sinyal-sinyal tersebut memiliki bit rate yang rendah dengan sumber sinyal yang berbeda-beda. Ketika sinyal tersebut memasuki Multiplexer, maka sinyal akan melalui sebuah switch rotary yang menyebabkan sinyal informasi yang sebelumnya telah disampling itu akan dibuat berubah-ubah tiap detiknya. Hasil Output dari switch ini adalah merupakan gelombang PAM (Pulse Amplitude Modulation) yang mengandung sample-sample dari sinyal informasi yang periodic terhadap waktu.
Read the rest of this entry »
Posted in Tulisan | 9 Comments »
April 11th, 2008
Sebelum kemunculan SDH, standar transmisi yang ada dikenal dengan PDH (Plesiochronous Digital Hierarchy) yang ditetapkan oleh CCITT (ITU-T). Sesuai namanya, jaringan PDH tidak melakukan sinkronisasi secara sempurna akan tetapi hanya menggunakan clock yang cukup akurat akan tetapi tidak persis sama di setiap simpulnya (switching node). Terdapat slip yang nilainya sangat kecil serta masih dapat ditolerir (misalnya plus/minus 50 bit atau 5×10-5 untuk jaringan/kanal 2,048 atau 1,544 Mbps). Mode operasi seperti ini barangkali memang merupakan suatu implementasi yang paling sederhana karena bersifat menghindari pendistribusian pewaktuan di seluruh jaringan.
Read the rest of this entry »
Posted in Tulisan | 2 Comments »
April 9th, 2008
CDM (Code Division Multiplexing), biasa dikenal sebagai Code Division Multiple Access (CDMA), merupakan sebuah bentuk pemultipleksan (bukan sebuah skema pemodulasian) dan sebuah metode akses secara bersama yang membagi kanal tidak berdasarkan waktu (seperti pada TDMA) atau frekuensi (seperti pada FDMA), namun dengan cara mengkodekan data dengan sebuah kode khusus yang diasosiasikan dengan tiap kanal yang ada dan mengunakan sifat-sifat interferensi konstruktif dari kode-kode khusus itu untuk melakukan pemultipleksan. Singkatnya, CDM dapat melewatkan beberapa sinyal dalam waktu dan frekuensi yang sama. Tiap kanal dibedakan berdasarkan kode-kode pada wilayah waktu dan frekuensi yang sama.
Berikut ini gambaran system komunikasi menggunakan CDM :

Read the rest of this entry »
Posted in Tulisan | 5 Comments »